Jumat, 25 November 2011

Sejarah perkembangan estetika pada periode klasik menurut PLATO


 Menurut plato seni hanya menyaikan suatu ilusi (khayalan) tentang kenyataan dan tetap jauh dari kebenaran. Dalam kenyataan setiap benda terwujud menurut  berbagai bentuk tetapi setiap benda mencerminkan suatu ide asli, kenyataan yang dapat di amati dengan panca indera selalu kalah dengan dunia ide.
Menurut plato : seorang tukang lebih dekat pada kebenarannya dari pada seorang pelukis atau penyair. Seorang tukang menjiplak kenyataan yang dapat disentuh dengan panca indera,sedangkan seorang pelukis atau penyair menjiplak suatu jiplakan membuat copy dari sebuah copy jiplakan tersebut tidak bermutu, satu-satunya yang dapat mereka capai ialah gambar-gambar yang kosong yang menggambang.
Plato, seorang filusuf yunani hidup pada tahun 428-348 S.M
Keindahan menurut pandangan plato dibagi menjadi dua :
Pandangan pertama : mengingatkan kita akan seluruh filsfatnya tentang dunia idea. Ia mengemukakan pandangannya dalam wawancara symposion sebagai pendirih socrates.
Pandangan kedua ada dalam philebus. Dinyatakan bahwa yang indah dan segala sumber keindahan adalah yang paling sederhana, yang dimaksud sederhana adalah bentuk dan ukuran yang dapat dibatasi lebih lanjut berdasarkan sesuatu yang lebih sederhana lagi. Pandangan ini memiliki keistimewaan karena tidak melepaskan diri dari pengalaman inderawi yang merupakan unsur konstituitif dari pengalaman estetis dan keindahan dalam pengertian sehari-hari. Menurut plato dunia empirik tidak mewakili kenyataan yang sungguh-sungguh hanya dapat melewatinya lewat misesis,peneladanan,pembayangan,atau peniruan(hal ini disebabkan terjemahan kata misesis tidaklah mudah) misalnya pikiran dan nalar kita meladani kenyataan, kata meniru benda dan bunyi meniru keselarasan ilahi, waktu meniru keabadian dan seterusnya. Bagi plato mimesis terikat pada ide pendekatan. Lewat mimesis tataran yang lebih tinggi hanya bisa disarankan. Mimesis atau  sarana estetik tidak mungkin mengacu langsung pada nilai-nilai yang ideal, karena seni terpisah dari tataran Ada (different of being) yang sungguh-sungguh oleh derajat dunia nyata yang fenomental. Seni hanya dapat meniru dan membayangkan hal-hal yang ada dalam kenyataan yang tampak.unsur teoritis menyatakan bahwa : segala kenyataan yang ada didunia ini merupakan tiruan(mimesis) dari yang asli,yang terdapat didunia idea dan jauh lebih unggul dari pada kenyataan di dunia ini. Karya seni merupakan tiruan dari kenyataan (mimesis memeseos). Seni menurut plato memiliki dua segi sekaligus : “Art,therefore,has a double aspect : in direct relatio to the essential nature of things” (Vardenius 1949:19:maka itu seni mempunyai aspek ganda: dalam perwujudan yang tampak seni adalah benda yang sangat indah nilainya, bayangan, namun seni memiliki pula hubungan yang tak langsung dengan sifat hakiki benda-benda) seni yang terbaik lewat mimesis,peneldanan kenyataan mengungkapkan sesuatu makna hakiki kenyataan itu. Maka dari itu seni yang baik harus truthful (benar) dan seniman harus bersifat modest (rendah hati) dia harus tahu bahwa lewat seni itu dia hanya bisa mendekati yang ideal dari jauh dan serba salah. Seni menimbulkan nafsu sedangkan manusia yang berasio harus meredakan nafsunya. Teori memesis pada prinsipnya menganggap seni sebagai pencerminan, peniruan, atau pembayangan realitas. Dalam penilaiannya atas karya seni yang terdapat dalam bukunya tentang tata Negara, Plato tidak hanya berpendapat bahwa karya seni adalah tiruan yang jauh dari kebenaran sejati, tetap juga menyatakan bahwa dalam kenyataannya karya seni menjauhkan warga negara, terutama para remaja, dari tugasnya untuk membangun negara. Di sini ia terutama melawan karya sastra dan seni drama, karena yang dipentaskan dan disyairkan hampir senantiasa hal-hal yang tidak baik dan tidak benar. Misalnya, tingkah laku kasar para dewa, bohong-membohong, bunuh-membunuh, dan lain sebagainya. Plato bersedia menerima keberadaan para seniman dan penyair yang ia idamkan, asal mereka menyajikan apa yang benar, baik, sopan dan adil, dan ikut mendidik rakyat. Tulisan-tulisan Plato mengenai keindahan banyak didasari pada doktrinnya mengenai “idea”. Menurut Plato segala kenyataan yang ada di dunia ini merupakan peniruan (mimesis) dari yang asli, dan yang asli menurutnya adalah yang terdapat di dunia atas saja idea bukan di dunia nyata ini dan adalah jauh lebih unggul daripada kenyataan di dunia ini. Selanjutnya Plato berpendapat bahwa seseorang seharusnya mencoba menemukan pengetahuuan dibelakang segalanya, yaitu pengetahuan tentang yang nyata dan permanen (Yunani ; episteme= pengetahuan) yang hadir sebagai pengertian tentang ‘idea’. Satu dari unsur/ciri ‘idea’ itu adalah keindahan (Yunani; to kalon), sifat permanen yang dimiliki oleh semua objek-objek yang indah. Plato menitikberatkan pada pengalaman awal dari dirinya dan muridnya (audience), dan juga pada maksud-maksud yang diakumulasikan pada kata-kata dari bahasa konvensional. Ketika memahami kata Yunani untuk indah, kalos, Plato mencatat bahwa kata ini pertama bermaksud ‘baik’ dan ‘pantas’. Sementara itu sudah seharusnya kita sadari bahwa karya tertulis Plato sendiri diakui sebagai salah satu karya sastra yang paling indah, menurut para ahli sastra dari berbagai zaman dan kebudayaan.

Daftar Pustaka
1.      1. Sutrisno, Mudji & Christ Verhaak. 1993. Estetika Filsafat Keindahan. Kanisius: Yogyakarta.
2.      2. Djelantik, A.A.M. 1999. Estetika Sebuah Pengantar. Masyarakat Seni Perrtunjukan Indonesia: Bandung.
3.      3. Teww, A. 1988. Sastra dan Ilmu Sastra Pengantar Teori Sastra. Pustaka Jaya: Jakarta.
4.      http//www.ndreh.2itb.com/contact

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar